Sabtu, 18 Januari 2014

Resensi Buku Laba-laba karya Gus tf Sakai Oleh: Ahmad Fanani (e1c110091)



Resensi Buku Laba-laba karya Gus tf Sakai
Oleh: Ahmad Fanani (e1c110091)

Kumpulan cerita-cerita pendek yang ditulis Gus tf Sakai sulit untuk dijabarkan secara keseluruhan. Karena masing-masing cerpen tampak memiliki ruang sendiri meski memiliki semacam identitas  yang mirip dari penulisnya.
Dari beberapa buku yang berderet di laci belajar salah seorang teman saya, cover buku inilah yang pertama kali menangkap perhatian saya; laba-laba dengan bercak darah di sampingnya. Tidak pikir panjang, saya langsung meminjamnya berhubung saya memiliki tugas untuk meresensi sebuah buku.

Harga buku ini termasuk murah dilihat dari segi cover yang mewah dan isi yang menarik, hanya Rp. 50.000,-. Dibanding dengan beberapa koleksi buku yang dimiliki salah seorang teman saya buku ini sangat praktis, bisa dibawa ke mana saja dan sewaktu-waktu bisa dibaca. Kesimpulan mengenai pengemasan buku ini yaitu praktis, murah dan sangat menarik (jika dilihat dari pandangan pertama).
Sebagai penulis yang lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, beberapa cerpen yang ditulis Gus tf Sakai memiliki latar maupun tema dari adat Minangkabau meskipun juga ada beberapa adat dari daerah Indonesia yang lain seperti suku Moni (Papua Barat) dan suku Sumbawa (Nusa Tenggara Barat). Mengenai buku byang berlatarkan adat Papua dan NTB saya belum sempat membacanya, saya masih focus di buku kumpulan cerpen yang berlatarkan adat Minangkabau ini (Laba-Laba).
Gus tf Sakai sering mengkritik kepercayaan masyarakat pada takhayul seperti dalam cerpen 'Meminta kepada Tempat yang Terkabul, Berkaul kepada Tempat yang Keramat' serta 'Wabah'. Tetapi yang sebenarnya unik dari Gus tf Sakai adalah beberapa cerpennya memiliki gaya penulisan surrealis. Imajinasi diluar lanskap konvensional. Seperti mimpi yang sekelebat lewat. Gaya ini terlihat dalam 'Laba-Laba'. Oleh karena itu, terkadang perlu membaca berulang kali sebelum kita dapat mengikuti imajinasi cerpen Sakai delam arah yang 'benar'
Nuansa Minang sangat kental di buku ini, hampir semua bercerita dengan berlatar Minang, walaupun ada juga yg berseting di Toraja. Butuh pemahaman khusus dalam membaca buku ini, sampai-sampai judul-judul dari kumcernya sendiri terkadang tak diartikan di dalam ceritanya.
Saya jatuh cinta sejak paragraf pertama di cerpen pertama, U-Nga. Hampir semua cerpen di buku ini bernafaskan kebudayaan (yang sangat jarang ditemukan d buku-buku sejenis), dengan kemampuannya membangun "rasa" yang begitu alami.
Dibuka dengan cerita seorang anak yang autis hingga cerita tentang asal muasal pohon Nagari dan juga mitos tentang palasik dapat kita temukan di buku ini. Belum lagi cerita tentang seorang kurir yang seolah melintasi waktu, menuju masa lalu. Garis besar atau beberapa  cerita di buku ini yaitu tentang legenda di masa lalu, yang dialami lagi di jaman sekarang. Semacam dejavu, tapi dialami oleh orang yg berbeda.
Laba-laba Gus tf Sakai sebuah contoh yang baik dari sebuah “cerpen situasi”. Cerita ini, sebuah parable tentang ketidakbebasan, ketidakpastian, dan kebuasan, bisa memberikan pengalaman alternative, sesuatu yang kurang diberikan oleh “cerpen topical” di antara halaman-halaman Koran. Laba-laba tak sekedar mengulang ulasan atau informasi, Laba-laba juga menampakkan kemampuan verbal, dengan arah yang lain, tidak mendeskripsikan, tapi membangkitkan sebuah suasana. Dengan identitas tinggi, laba-laba lebih merupakan perjalanan ke lanskap interior (disugestikan dengan ruangan bawah tanah), ke dunia trauma dan khayal, atau mungkin juga halusinasi.
Dari segi gaya bahasa, gaya bahasa dalam buku ini termasuk sangat ringan, artinya apabila buku ini mengandung tema atau latar yang penulis saat ini anut, buku ini akan sangat mudah untuk difahami. Tapi apabila penulis tidak menganut adat atau kebiasaan dalam buku ini akan sedikit sulit untuk memahami buku ini. Jadi untuk penulis yang tidak menganut adat atau kebiasaan yang dipaparkan dalam buku ini perlu membaca berulang kali agar bisa memahami maksud yang terkandung dalam buku ini.
Jadi, apabila penulis ingin semua kalangan bisa memahami maksud dari tulisan-tulisannya perlu memperhatikan tema atau latar yang bisa menyentuh semua kalangan itu sendiri, termasuk gaya bahasa dan kebiasaan masyarakat pada umumnya.


#TUGAS PENULISAN KREATIF SASTRA GUE



Tidak ada komentar:

Posting Komentar