Resensi
Buku Laba-laba karya Gus tf Sakai
Oleh:
Ahmad Fanani (e1c110091)
Kumpulan
cerita-cerita pendek yang ditulis Gus tf Sakai sulit untuk dijabarkan secara
keseluruhan. Karena masing-masing cerpen tampak memiliki ruang sendiri meski
memiliki semacam identitas yang mirip
dari penulisnya.
Dari
beberapa buku yang berderet di laci belajar salah seorang teman saya, cover
buku inilah yang pertama kali menangkap perhatian saya; laba-laba dengan bercak
darah di sampingnya. Tidak pikir panjang, saya langsung meminjamnya berhubung
saya memiliki tugas untuk meresensi sebuah buku.
Harga
buku ini termasuk murah dilihat dari segi cover yang mewah dan isi yang
menarik, hanya Rp. 50.000,-. Dibanding dengan beberapa koleksi buku yang
dimiliki salah seorang teman saya buku ini sangat praktis, bisa dibawa ke mana
saja dan sewaktu-waktu bisa dibaca. Kesimpulan mengenai pengemasan buku ini
yaitu praktis, murah dan sangat menarik (jika dilihat dari pandangan pertama).
Sebagai
penulis yang lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, beberapa cerpen yang ditulis
Gus tf Sakai memiliki latar maupun tema dari adat Minangkabau meskipun juga ada
beberapa adat dari daerah Indonesia yang lain seperti suku Moni (Papua Barat)
dan suku Sumbawa (Nusa Tenggara Barat). Mengenai buku byang berlatarkan adat
Papua dan NTB saya belum sempat membacanya, saya masih focus di buku kumpulan
cerpen yang berlatarkan adat Minangkabau ini (Laba-Laba).
Gus
tf Sakai sering mengkritik kepercayaan masyarakat pada takhayul seperti dalam
cerpen 'Meminta
kepada Tempat yang Terkabul, Berkaul kepada Tempat yang Keramat'
serta 'Wabah'.
Tetapi yang sebenarnya unik dari Gus tf Sakai adalah beberapa cerpennya
memiliki gaya penulisan surrealis. Imajinasi diluar lanskap konvensional.
Seperti mimpi yang sekelebat lewat. Gaya ini terlihat dalam 'Laba-Laba'.
Oleh karena itu, terkadang perlu membaca berulang kali sebelum kita dapat
mengikuti imajinasi cerpen Sakai delam arah yang 'benar'
Nuansa
Minang sangat kental di buku ini, hampir semua bercerita dengan berlatar
Minang, walaupun ada juga yg berseting di Toraja. Butuh pemahaman khusus dalam
membaca buku ini, sampai-sampai judul-judul dari kumcernya sendiri terkadang
tak diartikan di dalam ceritanya.
Saya
jatuh cinta sejak paragraf pertama di cerpen pertama, U-Nga.
Hampir semua cerpen di buku ini bernafaskan kebudayaan
(yang sangat jarang ditemukan d buku-buku sejenis), dengan kemampuannya
membangun "rasa" yang begitu alami.
Dibuka
dengan cerita seorang anak yang autis hingga cerita tentang asal muasal pohon
Nagari dan juga mitos tentang palasik dapat kita temukan di buku ini. Belum
lagi cerita tentang seorang kurir yang seolah melintasi waktu, menuju masa
lalu. Garis besar atau beberapa cerita di buku ini yaitu tentang legenda di
masa lalu, yang dialami lagi di jaman sekarang. Semacam dejavu, tapi dialami
oleh orang yg berbeda.
Laba-laba Gus
tf Sakai sebuah contoh yang baik dari sebuah “cerpen situasi”. Cerita ini,
sebuah parable tentang ketidakbebasan, ketidakpastian, dan kebuasan, bisa
memberikan pengalaman alternative, sesuatu yang kurang diberikan oleh “cerpen
topical” di antara halaman-halaman Koran. Laba-laba
tak sekedar mengulang ulasan atau informasi, Laba-laba juga menampakkan kemampuan verbal, dengan arah yang lain,
tidak mendeskripsikan, tapi membangkitkan sebuah suasana. Dengan identitas
tinggi, laba-laba lebih merupakan
perjalanan ke lanskap interior (disugestikan dengan ruangan bawah tanah), ke
dunia trauma dan khayal, atau mungkin juga halusinasi.
Dari
segi gaya bahasa, gaya bahasa dalam buku ini termasuk sangat ringan, artinya
apabila buku ini mengandung tema atau latar yang penulis saat ini anut, buku
ini akan sangat mudah untuk difahami. Tapi apabila penulis tidak menganut adat
atau kebiasaan dalam buku ini akan sedikit sulit untuk memahami buku ini. Jadi
untuk penulis yang tidak menganut adat atau kebiasaan yang dipaparkan dalam
buku ini perlu membaca berulang kali agar bisa memahami maksud yang terkandung
dalam buku ini.
Jadi,
apabila penulis ingin semua kalangan bisa memahami maksud dari
tulisan-tulisannya perlu memperhatikan tema atau latar yang bisa menyentuh
semua kalangan itu sendiri, termasuk gaya bahasa dan kebiasaan masyarakat pada
umumnya.
#TUGAS PENULISAN KREATIF SASTRA GUE

Tidak ada komentar:
Posting Komentar